Tampilkan postingan dengan label Binarassa Family. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Binarassa Family. Tampilkan semua postingan

 

Berburu Tiket Kereta Api

Ied Mubaarak!

Minal "aidin walfaizin.

Mohon maaf lahir dan batin.



***
Dua tahun sudah kita berdamai dengan pandemi. Selama dua tahun pula kita berdamai dengan diri sendiri untuk menahan tidak memaksakan pulang kampung maupun berkunjung ke karib kerabat yang berada di luar kota.

Kini setelah pemerintah memberikan instruksi boleh melakukan perjalanan mudik. Maka yang terjadi adalah orang berbondong-bondong melakukan perjalanan mudik untuk bisa berkumpul dengan keluarga dan karib kerabat.

Begitupun dengan keluarga kecil kami, dua tahun berlebaran terjebak di perumahan. Hanya menikmati kunjungan jarak dekat satu kecamatan yang bisa ditempuh dengan angkutan umum.

Kini kami berkesempatan membuat rencana perjalanan mengunjungi karib kerabat yang berada di kota Bekasi. Karena di sana masih ada eyang uyut yang sudah semakin merenta. Maka anak, cucu dan cicitnyalah yang akan menjemput bola mengunjunginya.

Tahun ini merupakan peluncuran beroperasinya Stasiun Garut. Maka kami pun melakukan perencanaan dengan memanfaatkan jasa angkutan transportasi Kereta Api Indonesia yang mulai pemberangkatannya dari Stasiun Garut.

Memulai pencarian informasi jasa tiket kereta online. Saat pemesanan tiket pemberangkatan, masih bisa memilih kursi sesuai keinginan. Alhamdulillaah tiket Kereta Api Cikuray Garut- Bekasi sudah kami booking. Tiket seharga Rp. 45.000,- sudah kami kantongi. Tinggal kami menyiapkan perbekalan lahir dan batin, karena jarak yang akan kami tempuh kurang lebih 200 KM dengan waktu tempuh 6 jam.

Sedikit tantangan muncul pada saat pemesanan tiket pulang Bekasi-Garut. Menurut informasi Kereta Api Cikuray tidak bisa di booking karena full seat.  Akhirnya mencoba mencari alternatif dimulai dari pencarian tiket kereta sampai kemunginan naik Bus antar kota.

Tidak lama kemudian mendapatkan kabar dari adik ipar, tiket sudah dikantongi dengan memakai Kereta Api Argo Parahyangan. Namun Kereta ini merupakan kereta cepat jarak jauh yang jangkauannya hanya sampai Stasiun Bandung. Meski dengan harga tiket yang merogoh kocek lebih dalam tetap deal melakukan pemesanan tiket untuk perjalanan pulang. Lanjut dengan pemesan tiket ekonomi Bandung-Cicalengka, dengan jeda waktu pemberangkatan hanya 30 menit saja.

Sedikit merasakan ketenangan karena tidak perlu memikirkan lagi nanti di perjalanan akan memakai kendaraan apa ketika pergi dan pulang. Karena bisa dibayangkan perjalanan melalui jalur bus sudah dipastikan akan mengalami kemacetan luar biasa, mengingat tahun ini adalah tahun pertama diperbolehkannya mudik secara menyeluruh.

Namun tetap dalam pengawasan pemerintah, yaitu diperbolehkan mudik dengan syarat usia dewasa 18 tahun ke atas sudah melakukan vaksin booster. Adapun anak-anak di bawah 18 tahun sudah vaksin kedua lengkap.

Bismillaah semoga perjalanan mudik kami berjalan lancar. Selamat saat berangkat dan pulang, bisa bertemu dengan karib kerabat dengan bahagia.

Selamat mudik semua, semoga selamat sampai tujuan dan bisa pulang kembali dengan suka cita.


Sudah berjalan berapa minggu PTM dikotamu?


Ketiga anakku sudah hampir hitungan bulan sekolah dengan PTM. Hanya saja, masih separuh waktu karena sistem shift pagi dan siang. 


Lega rasanya ketika anak-anak sekolah dengan PTM. Keseruan justru ketika jadwal sekolah ketiganya bersamaan, terutama jika mendapatkan jadwal pagi. Wuihhhhh bisa heboh seantero jagat. Antri mandi, belum kalo mamak lupa nyetrika, sibuk nyari kaos kaki, antri nungguin sarapan dan aneka kehebohan lainnya. Semua itu terbayar dengan tidak ada lagi tugas-tugas daring yang sempat bikin kepala mamak nyutnyutan tiap hari. 


Kini anak-anak sudah belajar seperti biasa. Tentunya dengan protokol kesehatan yang sangat ketat. Mencuci tangan pakai sabun, memakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan mengurangi mobilitas. Sempat menjadi perdebatan disekolah yang memakai jasa jemputan, karena pihak sekolah awalnya hanya memperbolehkan anak-anak datang dan pulang sekolah hanya diantar oleh orang tua. Namun seiring berjalannya waktu, suasana semakin kondusif untuk anak-anak bersekolah dengan dibebaskannya memakai angkutan umum dan memakai jasa mobil jemputan. Kini sekolah sudah mulai terasa geliatnya, meski masih 50% karena anak-anak masih bersekolah dengan sistem shift. Apapun kondisinya, selayaknya kita mengucapkan Puji dan Syukur kehadirat Allah SWT. 


Lain cerita dengan Anak sulungku  yang bersekolah di Sekolah Menengah Pertama justru mendapatkan pemberitahuan untuk melakukan vaksin masal. Pendataan dilakukan dengan menganjurkan anak-anak membawa foto copy kartu keluarga bagi yang belum vaksin, adapun bagi yang sudah diminta foto copy surat keterangan vaksin. Hal ini sangat membantu kami sebagai orang tua yang belum bisa bepergian jauh karena hanya beraktivitas di rumah saja. 


Pekan ini adalah vaksin dosis kedua buat sulungku. Sudah wanti-wanti sejak hari senin, artinya sebagai orang tua kita harus mempersiapkan anak-anak dalam kondisi sehat, sebelum berangkat sekolah sudah sarapan terlebih dahulu. Semoga menjadi wasilah kebaikan dan kesehatan bersama.


Meski aktivitas di rumah itu menyenangkan, namun kami tetap berharap kondisi bisa normal seperti biasa. Ketika jam anak-anak bersekolah, orang tua pun bisa fokus mencari nafkah. 


Semangat sehat keluargaku, semangat sehat Indonesiaku.



 Teringat akan percakapanku dengan Eyang uyut di suatu pagi...

"Biar sehat harus rutin olah raga Neng" katanya.

"Pan udah Eyang, tiap hari olag raga, nyapu, ngepel, nyuci..." selorohku

"Itu mah bukan olah raga, tapi kerja" sanggahnya

"???" aku termangu

"Olah raga itu harus sesuatu yang menyenangkan, bukan rutinitas keseharian" tambahnya lagi

"Jadi olah raga itu harus disempatkan diluar pekerjaan sehari-hari ya Eyang" tandasku

"Betul, sana pergi olah raga sama anak-anak ke kerkof" perintahnya

"Siap Eyang, berangkat yaa..." pamitku bahagia.

 

Usia hampir menginjak 90 tahun masih terlihat bugar. Mungkin hal itu yang membuat aku percaya melakukan sesuatu yang menyenangkan adalah kuntji kesehatan. 

Olah raga yang awalnya adalah sesuatu yang dirasa sangat memberatkan, kini aku coba memaknainya menjadi sesuatu yang menyenangkan. Ya, cukup membumikan nikreuh day bersama anak-anak ampuh menjadikan kami keluarga yang bergerak. Meski baru rutinitas sepekan sekali dan sekali-kali bolong. Namun, perjalanan yang kami tempuh dengan penuh suka cita. 

Jarak tidak lagi menjadi alasan untuk tidak bergerak. Kebersamaan, momen keceriaan sepanjang perjalanan adalah kenangan yang tidak bisa terulang. Kembali ke tempat yang sama justru kembali mendapatkan kenangan yang baru lagi, mendapatkan kisah yang lebih membahagiakan lagi.

Tips Berjalan Kaki Bahagia Ala Binarassa

1. Mensyukuri nikmat kaki.

Setiap orang memiliki kemampuan untuk berjalan. Tantangannya kini, lebih banyak orang yang lebih memilih berkendara dari pada berjalan. Dari sini kita bisa mulai dengan mensyukuri akan karunia Allah SWT bahwa kita masih sehat masih bisa berjalan sehingga selayaknya kita mensyukuri akan karunia kaki sehingga bisa melakukan perjalanan.

2. Jarak tempuh semampunya.

Untuk memulai kita bisa berjalan dengan jarak tempuh yang tidak terlalu jauh. Cukup berkeliling komplek misalnya. atau taman bermain di sekitar tempat tinggal. lakukan beberapa kali. setelah megalami kebosanan kita lanjutkan perjalanan ke tempat yang lebih jauh.

3. Berjalanlah menuju alam terbuka.

Rutinitas keseharian yang membuat mumet terkadang memunculkan keinginan kita untuk melakukan perjalanan. Alam terbuka tentunya bisa menjadi alternatif pelepas jenuh. Pemandangan hijau, hamparan pesawahan bisa merefresh kebutuhan oksigen kita sehingga bisa kembali mendapatkan kesegaran untuk kembali bekerja dan berkarya.

4. Berswafoto ketika berjalan-jalan

Selain sebagai kenangan, foto-foto saat melakukan perjalanan ini merupakan motivasi untuk melakukan perjalanan. Melihat foto perjalanan dengan pemandangan yang indah tentu ini kan memunculkan semangat untuk menuju tempat itu lagi. 


5. Berdiam sejenak dan menikmati pemandangan.

Hal ini yang tidak boleh dilewatkan. Ketika kita melakukan perjalanan, apalagi bersama keluarga, jangan pernah melewatkan momen bermain mereka. Ketika kita menemukan parit misalnya, biarkan mereka puas bermain disana. Ini merupakan penanaman kebahagiaan kepada anak-anak terutama balita. Ketika kita sudah lama tidak melakukan perjalanan biasanya anak balita akan mengingatkan kita dengan mengajak kembali ke tempat yang ada ikannya karena kenangan indah mereka adalah saat mengalami keseruan bermain di parit.

"Bahagia itu kita yang menciptakan"

Tepat kiranya menjadi tagline keluarga penggiat nikreuh day. Jalan yang becek sampai berlumpur pernah Kami jambangi, lupa rasanya untuk berkeluh kesah karena pemandangan sekitar terlalu indah untuk dinikmati. Terakhir nikreuh day Kami sampai di air terjun Citiis yang berada di Gunung Guntur. Perjalanan yang tidak  mudah, karena yang Kami lalui adalah lorong rumput liar, tebing terjal tanpa sengkedan, tebing terjal bebatuan, sampai akhirnya Kami sampai di tujuan dan mendapatkan bayaran kebahagiaan yang tidak terkira.

Semangat menemukan olah raga yang gue banget gaesss...

Salam olah raga!!!
Salam sehta!!!




Agustus merupakan bulannya kita. Yeaaaa... Kalau puluhan tahun lalu mamak yang dilahirkan belasan tahun lalu mamak yang melahirkan. 

Wilujeng tepang taun...
Selamat ulang tahun...
Miladukum sa'iidun...

'Ala kulli haal... 
Barakallaahu fii umrik... 
Aamiin yaa Rabbal 'aalamiin...

Dulu kalau ada yang bertambah usia mamak suka nyiapin hadiah-hadiah kecil sesuai kebutuhan anak-anak. Seiring berjalannya waktu, mamak hanya menghadiahkan doa saja ketika mereka bertambah usia.

Mungkin bagi sebagian orang ulang tahun adalah hal tabu untuk diperingati. Namun entah kenapa mamak merasa penting banget memperingati hari bertambahnya usia sebagai upaya untuk kita bisa merefleksi diri. 

Momen pertambahan usia adalah momen refleksi diri. Saatnya merenungi segala kejadian yang sudah lewat, menjalani sebaik-baiknya hari ini dan merencanakan kebaikan-kebaikan untuk hari kedepan. 

Akhirnya ketika kita sedang ngobrol bareng. Anak-anak mengingatkan kesan ketika mereka menerima kado di hari bertambahnya usia. Terhenyak mamak tatkala mengetahui hal sederhana yang dilakukan menjadi kenangan baik dimata anak-anak. Dari situlah terbesit niat untuk terus membangun kenangan bahagia itu meski dalam kondisi kesederhanaan. Manfaat yang luar biasa itu akhirnya membawa kita kepada keputusan untuk menjadikan momen pertambahan usia sebagai momen kebersamaan keluarga. Diperingati bersama, disyukuri dengan menyesuaikan kondisi yang ada. 

Dua tahun belakangan pembiasaan ini dimulai. Pesan untuk anak-anak, kalau bisa sampai kalian besar, bekerja bahkan berumah tangga bisa terus merajut kebersamaan seperti ini. 

Agustus harinya Aa dan Mamak banyak doa dipanjatkan untuk diri dan keluarga ini. Begitupun untaian doa-doa terbaik dari setiap anggota keluarga lainnya. Akhir acara kita akan bersuka ria dengan hidangan seadanya.

Ketika ingat mendapatkan cibiran tidak ada ulang tahun. Anak-anak sudah memahami. Ketika kita merasa susah membangun bonding dengan keluarga, momen memperingati pertambahan usia justru menjadi jalan kebersamaan kami. Upaya menumbuhkan kesyukuran kami atas nikmat dan karunia-Nya.

Cara kami pun sangat sederhana. Cukup berkumpul bersama, menghidangkan makanan kesukaan siempunya hajat yang disesuaikan kondisi rezeki kami saat itu. Kami bahagia. Semoga kebahagiaan kami ini suatu saat bisa menular kepada lingkungan sekitar. Tak hanya ketika momen pertambahan usia saja, tapi setiap nafas kami adalah kebermanfaatan untuk diri, keluarga dan lingkungan sekitar. 

Nikmat yang manakah yang kau dustakan! Ketika kita bisa merasakan kebahagiaan tak terhingga meski dalam kesederhanaan.

Rasa syukur tak terhingga atas karunia dan nikmat kebahagiaan keluarga kecil kami. Perjalanan yang tak mudah untuk sampai dititik ini. Pernah merasakan berharap bisa saling berpegangan tangan ketika membersamai anak-anak bertumbuh. Allaah SWT mewujudkan disaat yang tepat. 

Kini perjalanan ini terasa tidak terlalu terjal. Karena kita menjalaninya perlahan-kagan dalam kebersamaan. Disaat rumput sudah bertumbuh berwarna kehijauan, jangan sampai lengan untuk selalu merawatnya. Ketika sudah tumbuh kebersamaan yang mengupayakan kebahagiaan dan kesalahan, jangan sampai lengah untuk senantiasa merawatnya dengan ilmu dan pengetahuan.

Semoga keluarga ini menjadi keluarga yang tangguh. Bersuka cita dalam kondisi apapun. Penuh rasa kesyukuran dan menjadi jalan kebermanfaatan untuk semesta. 

Semoga keluarga ini berada dalam keberuntungan. Selalu menjadikan hari ini lebih baik dari kemarin.



Kami memulai lagi petualangan menuruni anak tangga yang hanya berupa sengkedan batu dan bambu. Harus pelan-pelan melaluinya karena jika lengah sedikit bisa berakibat fatal. Menunggu sementara waktu untuk turun karena dari arah bawah ada serombongan keluarga besar sedang naik menuju kami yang berada di atas. Bismillaah... selesai semua rombongan sampai di atas kami pun bergegas untuk menuruni anak tangga.

Di sepanjang jalan ayahnya anak-anak selalu mengingatkan untuk menikmati langkah-demi langkah perjalanan. Maksudnya supaya kami dapat menjiwai bahwa alam sekitar adalah juga makhluk ciptaan-Nya. Benar adanya, ketika kami menyadarai bahwa perjalanan yang kami lakukan adalah untuk mensyukuri ciptaan-Nya. Langkah semakin ringan, kelelahan berubah menjadi kebahagiaan. 

Menyusuri jalanan yang pernah kami lewati saat berangkat bukan tanpa tantangan. Justru semakin menantang. Sempat beberapa kali hampir terperosok karena jalan yang kami lalui berupa tanah yang gembur. Tiba di tanjakan yang sempat menantang saat berangkat terasa semakin ringan karena yang diperlukan upaya untuk menarik dan mendorong saja. Sampai di tempat yang areanya berupa tanah kering kami berpapasan dengan serombongan kelompok senam lansia. Mengira seperti itu karena anggotanya kebanyakan Bapak dn Ibu usia jelita. Masyaa Allaah semangatnya luar biasa.

Bertemu dengan rombongan para Ibu lansia bahagia, membuat semangat kembali memuda. Tadinya sudah terasa lelah sangat, menjadi berkobar kembali. Namun tetap turunan terjal perlu effort ekstra untuk berhati-hati. Sampai sempat menemukan galah bambu yang tergeletak kami ambil untuk dijadikan tongkat tumpuan. Sangat bermanfaat sekali untuk kami bisa sampai ke tempat yang lebih aman.

Kembali sampai ke titik pos pemeriksaan. Kami mencoba memperhatikan sekitar. Masih kami temukan seekor kera, meski terihat ada di atas pepohonan di balik dedaunan.

Melanjutkan perjalanan ke lorong jalan. Yang sisi-sisinya rimbun dengan pepohonan aneka bunga liar dan rerumputan. Sulungku sangat senang mengabadikan keindahannya. Sambil mempraktekkan teknik foto bokeh sederhana. 

Sepanjang perjalanan ini kami bertemu dengan rombongan 3 orang yang salah-satunya mengendarai sepeda gunung. Meski dalam hati bertanya, ko bawa sepeda padahal kondisi jalan rasanya tak akan mungkin bisa dilewati dengan kendaraan sepeda. Namun mungkin sama halnya dengan kami, perjalanan yang dilakukan adalah kebahagiaan. 

Sampailah kami di rumah kayu. Bertemu lagi dengan Ibu penjaganya dan menyapa kami. Syukur tak terhingga bisa kembali dengan selamat. Menapaki perjalanan kembali karena turunan masih hadapan. Namun lain pagi lain siang hari. Pemandangan pun sangat berbeda. 

Siang ini kami menemukan Burung Elang yang sedang terbang melanglang di angkasa. Kebun pisang yang sedang berbuah pun tak luput dari jepretan anak sulung kami.

Terakhir yang kami lewati adalah hamparan ilalang, meski sedikit mengering karena kemarau juga menyempit karena sebagian besar sudah tergerus galian pasir.

Ah berapa indahnya alam ini jika bisa tetap lestari seperti dahulu. Dipelihara dengan bijaksana. Karena Kami meyakini apa yang kita panen pasti kita tuai. Semoga alam ini tetap ramah dan tetap memberikan manfaat untuk manusia yang ada disekitarnya. Meski lihat keserakahan sudah sangat terasa dengan berkurangnya cadangan air ketika kemarau tiba.

Alhamdulillaah sampai juga di kaki Gunung. Kami mendapati pasar tumpah yang sangat meriah. Aneka jajanan, pakaian, mainan dan lain-lain lengkap. Bahkan anak-anak sempat membeli makanan kekinian. 

Semoga perjalanan ini banyak memberikan hikmah dan pelajaran bagi kami. Semakin meningkatkan bounding keluarga kami dan yang paling utama meningkatkan rasa kesyukuran kami sebagai doa terbaik.

Sampai jumpa di perjalanan berikutnya

Saung Binarassa,
Agustus 2021





 


Sampailah kami di plang post 1 penjagaan. Kami mendapati sepasang suami istri di sebuah rumah panggung. Menyediakan makanan sebagai jajanan bagi para pendaki. Namun pada saat berangkat kami merasa belum merasakan lapar. Kami melanjutkan dulu perjalanan menuju air terjun.

Di tengah perjalanan kami mendapati pos penjagaan. Kemudian menyusuri jalan menanjak kembali. Mulai terdengar gemericik air sungai. Taraaa... aliran sungai pun kami dapati, sejenak menyempatkan buat mencuci muka karena lelahnya perjalanan yang kami lalui. Namun ini baru alirannya, kami belum menemukan tanda-tanda air terjunnya. 



Kami melanjutkan perjalanan dengan melalui tebing yang terjal dengan bebatuan. Tanda panah berwarna kuning sebagai penunjuk jalan kami temukan. Kami menaiki tangga demi tangga dengan penuh kehati-hatian. Karena lengah sedikit bisa berakibat fatal. 

Semakin keatas terasa semakin menjauh. Namun qadarullah 3 anak yang sudah menunjukkan jalan tadi bermunculan dari bebatuan. 

"Kadieu pak, sanes kadinya"
"Owalah nyasar lagi "

Akhirnya kami balik turun lagi, karena tempat anak-anak itu muncul lumayan jauh. Terasa semakin sulit saat kami harus menuruni tangga bebatuan. Kami pun mengikuti petunjuk dari anak-anak tadi. Benar saja setelah melewati jalan bebatuan sempit yang di bawahnya jurang kami melihat keindahan air terjun yang menjadi tujuan kami. 


Akan-anak sudah antusias buka sepatu dan baju tanpa membuka celana. Karena kami. kesini berniat jalan-jalan saja. Namun ayahnya sudah bilang dari awal, kita berenang dengan baju yang dipakai. Pengalamannya di masa kecil, sepulang dari air terjun sampai di rumah baju sudah kering. Itulah yang kami lakukan mengikuti gurau ayahnya. Berenang sepuasnya, berasa punya sendiri karena belum ada pengunjung lain yang datang.


Saatnya nyurug, dengan mengguyur badan dengan air. Tengkurap diatas aliran air. Disini kami habiskan waktu sampai puas. Berfoto pun kami lakukan dengna berbagai gaya. Dari sisi manapun tetap eksotis. Tak terasa waktu cepat berjalan, namun anak-anak sudah menggigil kedinginan. Akhirnya kami pun menyelesaikan renangnya, kemudian berfoto sepuasnya.

Kami kembali dengan sangat bahagia. Meskipun dengan baju basah dan menggigil tetap senang. Kita lanjutkan perjalanan menuju tempat kembali. 

Suasana kembali dengan situasi menurun membangun kembali pola perjalanan kami. Jarak yang kami tempuh pun terasa lebih dekat.

Rumah panggung yang berdekatan dengan petunjuk post 1 kami lewati. Sebentar kami menawarkan anak-anak untuk sarapan terlebih dahulu. Benar saja rupanya dingin telah membuat kami semangat untuk meminum air hangat dan mencicipi makanan yang dijajakann. Anak-anak saling mengingatkan untuk tidak berlebihan dalam mengambil gorengan dan leupeut khusunya. Sambil sesekali bercerita ketika kondisi normal dari Bapak pemilik warung tersebut.

Tepat di post 1 merupakan titian paling puncak. Terdapat tiang dengan bendera yang selalu berkibar.  Sulung saya sempat meminta berfoto di tempat menangkapnya tiang bendera tersebut. 

Kita akan melanjutkan petualangan untuk kembali. Menurun ternyata lebih menantang, karena effort menjadikan badan sebagai tumpuan semakin besar. Saat kami turun, barulah kami berpapasan dengan rombongan pendaki seperti kelurga besar.  Betul kata Bapak dan ibu pemilik rumah panggung tersebut, kondisi ramai itu mulai dari jam 10.00. Sementara perjalanan kami mulai selepas subuh dan sampai di air terjun kurang dari jam 09.00.

Next==>

 


Sehari sebelumnya, sang pemimpin sudah sounding pasukannya besok akan ada agenda jalan-jalan. Tujuan kita adalah adalah air terjun Citiis yang berada di Gunung Guntur. Alasannya karena tempat tersebut adalah kenangan masa kecil, karena ceritanya sebagai napak tilas setelah melewati puluhan tahun dan mengenalkan alam kepada anak-anak sekaligus playing based alquran yang biasa kita kaji setiap malam.

Selepas subuh kita sudah bersiap untuk melakukan perjalanan. Hanya berbekal air mineral satu botol dan uang beberapa puluh ribu kita berangkat dengan suka cita. Sepanjanng perjalanan benar-benar Kami nikmati, baik dengan foto-foto maupun obrolan kecil. 

Sampai di kaki Gunung kita sudah takjub dengan adanya pasar tumpah. Namun tekad masih kuat untuk melakukan perjalanan sampai tujuan. Sempat berfoto di tulisan lokasi pendakian sebagai bahan petunjuk perjalanan. 

Sedikit ke atas kita bertemu dengan seorang pencacah batu. Seorang kakek sepuh yang menjadikan mencacah batu sebagai satu-satunya mata pencaharian. Sempat mendengar cerita tentang bagaimana kondisi gunung Guntur dimasa lalu. Namun sedikit informasi yang disampaikan karena fokus sudah agak pudar karena kondisi jalan yang terus menanjak. 

Dipemberhentian berikutnya pemandangan sudah mulai terlihat lebih tinggi. Terdapat rumah kayu yang menyediakan jajanan untuk sekedar mengganjal perut. Namun kami hanya sebatas lewat. Waktu menunjukkan pukul 07.30, kondisi udara sedikit berembun. Cipratan air sempat memunculkan keraguan Mamak buat lanjut, karena menyangka hujan. Namun timses mendaki terus menyemangati, untuk sampai ke tujuan. Sempat bertanya kepada pemilik rumah kayu, berapa jauh jarak ke air terjun. Cukup menghabiskan waktu satu jam katanya. Hal tersebut yang membuat Mamak semakin jiper.



Suasana yang terlalu pagi benar-benar mengangkan. Karena seperti tidak akan ada orang yang mendaki. Namun pemilik rumah kayu mengabarkan, sekitar jam 10.00 biasanya pendakian akan ramai. 

Kami pun melanjutkan perjalanan melewati lorong jalan. Kenapa disebutkan lorong, sepertinya sebelum pandemi menyerang jalan ini luas karena terlihat ada pembatas jalan berupa benteng disisi kanan dan kiri. Namun saat Kami melewati jalan ini sudah berupa lorong yang rimbun dengan rerumputan dan bunga-bunga hutan. Bersama Kami melewati lorong tersebut, dengan saling berdekatan karena khawatir tersesat. Sampailah pada rumah panggung dekat dengan tempat pemeriksaan yang sudah dilengkapi dengan tempat cuci tangan sebagai upaya pencegahan covid. 



Anak-anak menyempatkan mencuci tangan. Kemudian melanjutkan perjalanan. Melewati jembatan bambu kami sempat menyingkirkan penghalang arah, karena dikira melewati jalan tersebut. Padahal palang bambu tersebut adalah tidak untuk dilewati. 



Bertepatan Kami melewati palang tersebut. Tiba-tiba dikejutkan dengan suara dari arah atas. Sontak saya dan anak-anak berteriak dan lari. Karena melihat dua ekor kera yang sedang bergelantungan. Namun tidak dengan ayahnya anak-anak. Malah bilang ngga apa-apa, ngga ada kera itu mah tupai katanya. 

Sedang kebingungan akan melewati jalan mana, petunjuk datang dari 3 orang anak yang sedang melakukan pendakian. Belok kiri merupakan arah menuju air terjun. Kami pun mengikuti anak-anak tersebut meski sebetulnya tidak terkejar karena mereka cepet banget sementara kami perlahan-lahan karena membawa anak usia 5 tahun. 


Kami mencoba terus melanjutkan perjalanan. Kali ini jalan yang kami lalui lumayan menguras tenaga dan emosi. Tanjakan yang terjal tanpa ada titian membuat kami harus lebih berhati-hati. Variasi tanjakan ada sedikit turunan yang semakin membuat kami ekstra hati-hati karena anak 6 tahun kami benar-benar harus didampingi sebaik-baiknya. Alhamduillaah terlewati dengan baik meski sempat drama teriak-teriak. Kami pun melalui jembatan bambu yang sudah sedikit rapuh. Keindahan alam mulai terlihat semakin indah sebelum kami melanjutkan perjalan berikutnya dengan rute tanjakan terjal lagi. Namun titian sudah ada meski hanya berupa batuan dan sengkedan bambu. 

Next ==>
 

 


 

"Sekolah bukan sedang pindah ke rumah, akan tetapi sekolah saat ini sedang dikembalikan ke tempat asalnya dia berada" -Ustadz Abu Salma Muhammad

Harapku cukup dua tahun saja pandemi ini melanda. Menikmati perubahan yang begitu cepat bukan tanpa usaha. Menginjak tahun ketiga tantangan semakin luar biasa, karena kini siswa daring bukan lagi dua. Di rumah ada 3 siswa dengan pembelajaran jarak jauh. Selain menyiapkan gadget, kuota pun menjadi santapan rutin untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Yang harus kita lakukan untuk pembelajaran jarak jauh adalah menerima bahwa saat ini kita sedang dalam kondisi pandemi. Kita harus melakukan pembelajaran jarak jauh. Kita harus menjadi guru bagi anak-anak kita di rumah. Karena inilah seharusnya. "Al-ummu madrosatul uula" Ibu itu sekolah pertama bagi anak-anaknya. Pendidikan yang paling baik adalah pendidikan berbasis fitrah yang dimulai dari rumah.  

Flasback awal-awal pandemik saya adalah orang tua yang riweuh. Namun, bukan lagi yang berorientasi nilai. Kemandirian yang sudah saya latihkan pada anak sulung buahnya sangat terasa. Saat genting seperti sekarang, ketika diharuskan fokus pada salah-satu anak. Awal pandemik masih bersemangat, karena ini merupakan sesuatu yang baru. Namun, tidak berlangsung lama, karena ternyata gaya belajarnya sedikit tidak sesuai dengan sistem pembelajaran daring. Tidak memaksakan, namun tetap mengingatkan bahwa inilah episode yang harus kita jalani. 

Sejak awal kita sudah membuat kesepakatan. Waktunya daring tidak boleh bermain keluar rumah. Pun tidak diperkenankan bermain game. Boleh bermain setelah jam belajar selesai. Namun kenyataannya tak semudah dibayangkan. Karena ternyata anak yang kinestetik sedikit kesulitan menangkap pembelajaran dari audio-visual. Kita tetap berbesar hati, jalani saja dulu jangan memikirkan hasil. Tidak merasa terbebani dengaan tugas-tugas PJJ saja sudah prestasi yang luar biasa.

Perjalanan PJJ berjalan normal, meski kadang masih ditemukan tugas yang belum dikerjakan sampai harus mengingatkan terus. Tugas hari ini tidak selsesai tak apa, asalkan dalam seminggu sudah tuntas. Alhamdulillah sudah bisa berjalan. Dan sebagai fasilitator tidak boleh lengah, harus tetap cek ricek Google Clasroom untuk memastikan Tugas-tugas satu pekan sudah tuntas.

Kini memasuki tahun ketiga, bertambah satu siswa dengan jenjang Taman Kanak-kanak. Tahun kemarin maju-mundur mau mendaftakan sekolah karena masih daring. Tahun ini mengupayakan memasukan bungsu kami masuk Taman Kanak-kanak untuk persiapan tahun depan masuk ke Sekolah Dasar. 

Pun tahun ini masih dengan daring. Awalnya belum terbayangkan daring anak TK akan seperti apa. Karena belum berjalan sepekan, masih belum bisa menyimpulkan. Namun secara keseluruhan, anak masih semangat ketika mengikuti video call pembelajaran dan dibaca iqra. Juga terlihat senang ketika pembelajaran melalui google meet. Namun kendala justru ada pada jaringan yang terkadang suara Ibu guru tidak jelas bahkan sampai ngfrezze dari saluran.

Di era pandemi ini peran Ibu sebagai madrasah pertama bagi anak-anak sedang diuji kompetensinya. Untuk menyejajarkan pendidikan maka para Ibu harus bersiap dengan perubahan dan senantiasa memupuk semangat untuk belajar.

Terima kasih anak-anakku atas 

keridoanmu menjalani proses ini. Terima kasih para guru yang yang telah bersabar mendampingi anak-anak daring. Terima kasih wahai diri yang mau bersabar dan berupaya untuk memberikan yang terbaik untuk anak-anak




"Anak-anak akan tumbuh menjadi apa yang Anda percayai tentang mereka."

Sedang menikmati kebiasaan yang baru terbina lagi. Mengikuti jejak para leluhur untuk membina keharmonisan dalam rumah tangga. Yup, ngobrol ngalor-ngidul sampai ngobrolin sesuatu yang tidak penting pun kita bahas. Meski terkadang masih muncul ketegangan, namun sekarang sudah mulai tercairkan dengan candaan-candaan yang kadang masih terasa kaku.

Inti dari obrolan kita saat ini terasa pas banget dengan bahasan Obrolan Dapur Ibu Episode 135 :
"Hak anak sebelum lahir adalah mendapatkan kebahagiaan, bahkan sejak berada di dalam rahim ibunya, mereka tidak pernah meminta lahir dari kita, kitalah yang memintanya." (IPEDIA)

Tentunya obrolan kami sedikit berbeda, karena bahasannya tetap mengupayakan on track melihat ke dalam diri kami yang sedang berjuang untuk mengenal diri. 



"Anak Terlindungi, Indonesia Maju."

Merupakan tag line tema Hari Anak Nasional 2021. Ketika kita memaknai kata perlindungan tentu akan memiiki makna yang sangat luas. Untuk kita sebagai orang tua tentu sudah memahami perlindungan apa saja yang bisa kita berikan untuk mereka, karena hanya kita yang mengenal dan memahami mereka. Namun ketika orang tua sama sekali tidak mengenali anaknya bagaimana kita bisa tahu apa yang harus dilindungi dari anak, tentunya ini akan berdampak luar biasa untuk bekal anak dimasa depan. 


Untuk mengenali anak-anak kita, bisa dilakukan dengan cara :

1. Ngobrol Bareng 

Ngobrol bareng merupakan jurus jitu untuk kita lebih mengenal anak-anak kita. Apalagi sebagai orang tua kita bersipa dengan posisi sebagai pendengar yang baik. Jadi tidak ada rasa ketidak nyamanan yang anak rasakan ketika mereka berupaya menceritakan baik hal sederhana sampai hal-hal yang berat sekalipun. 

Moment seperti ini akan membangun bonding kedekatan anak dan orang tua sehingga tidak lagi ada jarak ketika suatu saat nanti anak-anak membutuhkan masukan dari orang tua begitu juga orang tua membutuhkan masukan dari anak-anak.

2. Main Bareng

Yang sering dilupakan oleh sebagian orang tua, apalagi seorang ayah. Padahal moment bermain semasa kecil akan sangat terekam jelas dimasa dewasa kelak. Ini akan menjadi bekal untuk anak-anak kita bisa merasakan kabahagiaan saat bermain juga akan menumbuhkan rasa ingin mengulang kembali masa-masa kebahagiaan itu. Sehingga harapannya nanti tak hanya sebagai kenangan indah, namun sebagai contoh yang baik untuk mereka ikuti ketika kelak mereka memiliki keturunan.

3. Beraktivitas Bareng

Dari obloran kita sempat mau membuat jadwal aktivitas bareng juga aktivitas berpasangan. Artinya kita akan menambah project bersama untuk aktivitas bareng setelah project "Mengkaji Al-quran" rutin dilakukan semenjak bulan Ramadan kemarin. Nantinya selain kita menambah project bersama kita juga akan membuat plan aktivitas berpasangan.

Beraktivitas bersama akan membina bonding kebersamaan antara anggota keluarga. Dari sini kita akan belajar memahami bagaimana kelak anak-anak kita menghadapi permasalahan dalam sebuah tim. Mungkin permasalahan yang akan dihadapi masih sederhana, tapi seiring berjalannya waktu kita akan mengenalkan bagaimana sikap terbaik kita ketika berhadapan dengan permasalahan dihadapan. Pembelajaran tak hanya anak-anak daatkan, namun sebagai orang tua juga kita akan mendapatkan mutiara-mutiara berharga dari guru sesungguhnya yaitu anak-anak kebanggaan.

Selamat Hari Anak Nasional,
Jadilah anak-anak yang bahagia sesuai dengan apa yang kalian inginkan. 
Silahkan bebaskan ekspresimu, kejar dan capailah apa yang kamu cita-citakan.
Sebagai orang tua, kita mengupayakan membersamai secara maksimal dan tentunya memberi restu untuk kebaikan-kebaikan yang akan kalian jalani. 







 


Tahun ajaran baru dimulai. Pandemi dengan agenda PPKM, belum tatap muka. Masih pembelajaran jarak jauh atau dikenal dengan sebutan daring.

Yang istimewa dari tahun ajaran kali ini adalah ketiga bintang kebanggaan mamak mulai bersekolah. Tiga tahap tingkatan mulai TK, SD dan SMP. Dan pembelajaran semuanya melalui daring. 

Wow aja apa wow banget? Apa yang bisa mamak lakukan untuk membersamai ketiga bintang mamak? Lets see, bagaimana mamak mempersiapkan diri dengan tantangan ektra dihadapan.

1. Menerima kondisi saat ini.

Sebagai manusia biasa kita tak bisa menyalahkan taqdir kenapa mengalami situasi seperti saat ini. Yang harus kita lakukan adalah menerima bahwa saat ini kita sedang menjalani pandemi. Menerima bahwa anak-anak kita harus menjalani pembelajaran daring. Dan ini adalah fase dimana Allah SWT kembali menyeimbangkan alam dan makhluknya untuk kembali kepada fitrah.

2. Tetap berada pada kondisi kesadaran penuh.

Dengan tetap berkesadaran berarti kita mengupayakan untuk on track. Meminimalisir emosi berlebihan dan tetap pada kondisi kedamaian. Sehingga hal-hal yang tidak kita inginkan bisa dihindari sedikit demi sedikit.

3. Penuhi tangki kebahagiaan dan kesabaran.

Salah satu kunci menjelaskan bahagia dan sabar adalah kita sendiri harus bahagia dan bersabar. Maka ketika kita merasakan alarm segeralah kita beralih kepada hal yang bisa menjadikan kita tetap on track. 
Beberapa hal yang bisa menjadikan kita tetap dalam kondisi bahagia dan sabar adalah dengan memenuhi me time kita misal dengan kegiatan bermain bersama anak, membaca buku kesukaan, mengerjakan keterampilan kesukaan seperti menulis, menjahit, merajut dan lain-lain. Intinya kenali alarm, ketika berbunyi segeralah mengalihkan aktivitas sejenak, namun jangan sampai kebablasan ya...

4. Bersyukur dan beristighfar.

Setiap kejadian adalah kehendaknya. Ketika kita sudah mendapat kesadaran penuh tatkala mendapati sesuatu diluar kehendak kita beristighfar kuncinya. Tatkala kita mendapati sesuatu yang sesuai harapan kita maka bersyukur adalah kuncinya. Namun alangkah baiknya apapun kondisinya kita senantiasa meningkatkan rasa kesyukuran kita, karena nikmat yang kita terima tentunya lebih banyak dari apa yang tidak kita kehendaki. Dan kita pun harus tetap berprasangka positif karena kita tidak pernah tahu apa yang Allah SWT kehendaki untuk kita. Namun kita meyakini pasangan baik kita akan kembali kepada kita sendiri. Kewajiban kita hanya berusaha, apapun hasilnya adalah kuasa Allah SWT.

Seminggu pertama mungkin masih penyesuaian, namun seiring berjalannya waktu kita pasti akan menemukan tips dan trik menjalankan tantangan daring terbaru dengan penuh kebahagiaan.

Duhai anakku terima kasih sudah menerima kami sebagai orang tuamu dalam menjalani kehidupan. 
Duhai anakku bantu kami menemukan kebahagiaan dan kedamaian dalam proses membersamaimu. 
Duhai anakku maafkanlah segala kesalahan yang kami lakukan baik sengaja ataupun tidak ketika kami membersamai kalian.

Semangat membersamai anak-anak. Semoga kita bisa menjadi partner terbaik.

Next kita akan kupas tentang tips-trik minim emosi membersamai anak daring. Hihihi...


 
"Harta Berharga" 

Film Keluarga Cemara.

                          
Harta yang paling berharga             
adalah keluarga..                       

Istana yang paling indah                     
adalah..keluarga..                     

Puisi yang paling bermakna                 

adalah keluarga            
Mutiara tiada tara                  
adalah..keluarga..                         

Selamat pagi Emak              
Selamat pagi Abah            
Mentari hari ini           
Berseri indah..

Kisah ini bermula ketika kami mengikuti challenge foto keluarga dalam rangka memperingati Hari Keluarga Nasional ke-28 yang bertema "Keluarga Keren Cegah Stunting".  Dengan latar pendidikan kesehatan tentunya tema tersebut bukanlah hal baru. Termasuk bagiku yang pernah beberapa tahun terjun langsung mengamati pertumbuhan dan perkembangan anak Balita. Setiap anakku lahir selalu memperhatikan tumbuh kembangnya dengan tidak pernah absen menimbang anak-anakku di Posyandu.

Kini ketiga anakku telah beranjak menjadi anak-anak dan remaja. Lulusan ASIP. Masa kecilnya sudah lulus imunisasi dan tentunya rutin ditimbang dan diukur. Alhamdulillaah... semuanya berada pada kondisi normal, sehat dan tidak kurang sesuatu apapun.

Memaknai Keluarga

Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan.

Itu artinya kami berlima terdiri dari Ayah, Ibu,dan tiga anak berada di satu atap yang sama merupakan satu keluarga. Berada di satu atap yang sama bukan berarti memiliki sifat yang sama. Karena pada hakikatnya beda kepala maka berbeda pula sifatnya. Beranjak dari sanalah kami berazam untuk menciptakan keluarga sebagai lingkup yang Sakinah Mawaddah wa Rahmah. Langkah yang kami tempuh adalah dengan menyatukan visi dan misi keluarga. Sehingga betapapun berbeda sifat kami, ketika kita memiliki tujuan yang sama maka kita akan tetap terarah.

Visi dan Misi Keluarga

Sebetulnya untuk hal detil kami belum pernah membicarakan hal ini. Mengingat selepas Ramadhan kemarin intensitas kebersamaan kami semakin terjaga, arah yang kami tujupun seperti terlihat semakin terang.

Sakinah

Membangun keluarga sakinah dengan penuh dengan kasih sayang adalah cita-cita terbesar kami. Sakinah berarti tentram. Tentram karena berada dalam keridhoan Allah SWT. 

Mengapa sakinah menjadi visi besar keluarga kami, hal ini muncul setelah penelusuran masa lalu kami yang penuh dengan kondisi Inner Childs. Terlalu banyak pengalaman tidak menyenangkan pada masa lalu kami. Sehingga kedepannya kami berharap bisa menciptakan sakinah, penuh kedamaian dalam membersamai anak-anak kami. Dan kini kami sudah memulainya dengan bersandar pada kebersamaan meruntinkan kajian-kajian ilmu di meja peradaban rumah kami.

Mawaddah

Mawaddah berasal dari bahasa Arab wadda yang berarti rasa sayang, cinta yang membara, atau menggebu.

Harapannya keluarga kami bisa dipenuhi dengan cinta kasih. Karena kami meyakini akan  Allah SWT memiliki sifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tidak semata Allah SWT memiliki tersebut kecuali untuk kita sebagai makhluknya saling mencintai dan menyayangi.

Wa Rahmah

Rahmah dapat diartikan sebagai kasih, ampunan, rahmat, rezeki, dan karunia dari Allah SWT. 

Disini Allah kembali menegaskan untuk menciptakan keluarga yang penuh dengan rasa saling menyayangi. Karena Allah SWT tidak menginginkan hambanya saling membenci.



Aa adalah anak kedua. Kehadirannya adalah anugerah tak terhingga. Hadirnya bertepatan dengan usia Abangnya yang baru 20 bulan. Sangat membantu memudahkan mamaknya untuk menyapih Abang. Karena tanpa effort yang seperti di ceritakan orang-orang tentang susahnya menyapih. Selain ikhtiar merubah kebiasaan tanpa trauma, tiba-tiba Abang minta berhenti mengASI dengan alasan sudah tidak enak lagi.

Saat melahirkannya pun luar biasa. Hanya memberikan rasa sakit saat beberapa jam akan keluar. Namun, sejak kecil sudah banyak berkorban untuk kami kedua orang tuanya. Karena dipaksa disapih mengaASI ketika lulus ASIF. Formula pun menjadi alternatif asupan makanannya. Tumbuh menjadi anak yang sehat dengan berat badan yang gemoy. Sesekali sempat sakit dan selalu mendapatkan pengobatan dokter anak. 

Usia satu tahun kami bersama lagi, namun kurang menyadari dengan perkembangannya. Badan sehat dan luar biasa aktif, ternyata tidak dengan perkembangan bicaranya. Yang mengkhawatirkannya justru Kakek dan Neneknya, sampai meminta kami untuk memeriksakannnya secara intensif ke dokter spesialis. Namun kami sebagai orang tuanya masih menganggap hal tersebut adalah biasa. Karena saya berfikir, mungkin hal tersebut sebagai demo kepada mamaknya yang sudah tega melepaskan hak ASInya tidak sesuai usianya. 

Namun tetap, kami pun mencoba berikhtiar memeriksakan perkembangannya. Dengan membawanya ke dokter spesialis. Karena pada saat itu, jarak menuju dokter spesialis harus melewati gerbang tol. Ketika kondisi tol macet total kami pun memutuskan untuk putar balik dan menunda pemeriksaan. Dan kejadian luar biasa justru setelah niat berangkat dan akhirnya tidak jadi menemui dokter spesialis. Justru Aa mau dan mampu berbicara seperti anak-anak sesuai usianya. 

Tahun ajaran baru kami daftarkan Aa ke PAUD yang dekat dari rumah. Tidak ada kendala berarti saat belajar bersama teman-temannya. Bahkan Aa tumbuh menjadi anak yang cerdas yang memiliki kemampuan akademik luar biasa. Ketika Aa TK kondisi kami sedang nomaden, akhirnya dipindahkan ke kota asal. Di TK pun alhamdulillaah bisa mengikuti pembelajaran dengan baik dan berprestasi.

Dengan usia yang masih sangat muda, kami mencoba mendaftarkannya ke SD. Ini karena pertimbangan biar jeda sama Abangnya tidak terlalu jauh. Kini 5 tahun sudah Aa sekolah di SD. Perkembangannya semakin pesat, meski terkadang mamak mengkhawatirkannya. Namun harus tetap ikhlas dan ridha dengan apa yang menjadi pilihannya dan senantiasa selalu ada untuk mendampinginya.

Setiap anak adalah unik. Keunikan anak yang satu dan lainnya makin kentara. Meski sama-sama suka matematika tapi tetap mereka punya keunikan tersendiri dalam menyikapi sesuatu. 

Hadirnya pandemik semakin memperjelas temuan keunikan setiap anak. Berat memang menjadi anak dengan memiliki cara belajar visual ketika harus menghadapi PJJ seperti sekarang. Lebih tepatnya visual yang tidak suka nonton video pembelajaran. hihihi.... Setelah di evaluasi, kok hanya matematika saja yang kelihatannya berkembang. 

Dengan kondisi seperti ini, jiwa kepo mamak meronta. Ada apa sebenarnya dengan kondisi anakku saat ini. Akhirnya mamak tantangin extra miles. Mencoba sejauh mana perkembangan belajarnya selama mengikuti PJJ dengan menawarkannya mengikuti olimpiade Ganesha Operation. Menolak, ya itu hal yang dilakukannya. Namun bukan mamak kalo menuruti penolakan anak ketika merasakan penurunan semangat belajarnya. Mencoba merayu lagi, bisa pasti bisa, kalau ngga bisa ngisi tidak apa-apa. Begitu kira-kira rayuan mamak. Dan pertahanan anakpun biasanya akan goyah. hahaha...

Hari H sudah bersiap depan laptop. Buka link soal, bukan ngisi biodata malah langsung scrolling melihat berapa soal yang akan dikerjakan. Tiba-tiba...

"Yes cuman 50 soal." teriaknya
"Emang kenapa?" Mamak tanya

"Dulu kan 100 soal, lama ngerjain matematika jadi sisanya ngarang." tambahnya

"Hahahaha ternyata buah tak jauh dari pohonnya." dalam hati

Selanjutnya semangat mengerjakan satu persatu soal yang ada di layar kaca, sambil sesekali nglirik mamaknya yang ngintip-ngintip.


Tiba saat pengumuman, mamak semangat sekali mau menghadiri zoominarnya. Dan taraaaaa... nama anakku ada di peringkat 5. Alhamdulillaah... Berarti sudah salah menduga. Dalam diamnya anakku ternyata belajar, bukan main-main saja.


Extra miles selanjutnya ketika mendapatkan pengumuman kegiatan Munaqosyah Angkatan 1. Mamak tanya lagi, mau terima tantangan lagi nggak. Menolak lagi dong, mamak tetap dengan jurus rayuan maut. Akhirnya mau mengikuti dengan melalui proses memprioritaskan waktu untuk mau muroja'ah setiap hari.


Hari ini adalah hari ujiannya. Mamak hanya mengantarnya sampai pintu saja. Ikhtiar sudah maksimal, coba lebih tenang... in syaa Allaah lancar... hanya itu doa yang mengantarkannya untuk mengikuti munaqosyah secara offline pilihannya sendiri.


Alhamdulillaah... pulang dengan semringah dan cerita banyak hal. Inilah yang mamak inginkan. 

"Apapun yang kamu bahagia melakukannya, lakukanlah! jangan pernah takut untuk bahagia..."

Bahagiamu adalah kebahagian kami sebagai orang tuamu...

Terima kasih sudah menjadi bagian dari sumber kebahagiaan kami..






 


Menanti dengan penuh kesabaran. Membersamai Kaka 5 tahun belajar shaum tidak bisa langsung tukblek tuntas sampai maghrib. Menikmati prosesnya, namun tetap yakin suatu saat nanti Kaka akan bisa belajar shaum sampai maghrib. Semuanya berjalan dengan indah dan sedikit drama, tentu tidak lepas dari support Aa dan Abang yang ikut melatih dengan mengajak Kaka bermain sampai bisa menahan untuk tidak makan dan minum.

... Sebagaimana kami menyuruh puasa anak-anak kecil kami, dan kami beserta putra-putra kami berangkat ke masjid dengan menjadikan mainan dari kapas buat mereka, jika ada salah seorang dari mereka menangis minta makanan, kami berikan mainan itu kepadanya sampai masuk waktu berbuka”
(HR Bukhari dan Muslim)

Setiap sahur Kaka dibangunkan untuk sahur bersama, tidak pernah ada drama. Kaka akan giat bangun saat dibangunkan, kemudian ke kamar mandi sendiri, untuk pipis dan mencuci muka. Ikut makan sahur seperti biasa, minum susu, jika masih ada cemilan sisa tajil dihabiskan juga saat sahur.

Untuk penyesuaian tidak mematok harus tamat sampai maghrib. Namun ketika malam tetap akan ditanya besok puasanya mau sampai jam berapa?. Biasanya Kaka suka punya jawaban sendiri. Dan ketika berbuka di siang hari pun Kaka punya istilah sendiri. Bukan buka tapi sahur kedua. Hihihi….

Berikut perjalanan latihan shaum Kaka selama 5 hari.

Hari pertama tanpa drama, namun Kaka ingat sahur keduanya jam 12.30 WIB. Alhamdulillaah

Hari kedua tanpa drama juga tetap ingatannya naik satu jam, sahur keduanya jam 13.00 WIB. Alhamdulillaah

Hari ketiga tanpa drama juga namun ingatannya sahur kedua jam 14.00 WIB, alhamdulillah lebih sedikit 14.30 WIB karena tertidur selepas dzuhur. Alhamdulillaah

Hari keempat Mamak yang tidak shaum kepergok lagi nikmatin sisa soto, padahal waktu sudah mau menjelang ashar, Kaka pun ikut nyicip. Ya, hanya nyicip saja. Maafkan Mamak, padahal udah sembunyi-sembunyi itu teh, masih saja kepergok. ‘Alaa kulli haal alhamdulillaah

Hari kelima ashar menjelang Mamak meyakinkan, kuat sampai maghrib?. Iya, Kaka mau puasa sampai maghrib.” jawabnya

Alhamdulillaah di hari kelima Kaka berhasil shaum sampai Maghrib. Sebagai apresiasi kita masak ayam bumbu merah. 

Bismillaah hari keenam dan hari-hari berikutnya semoga Kaka di mampukan untuk tamat shaum sampai magrib  dan Kita semua mendapatkan hikmah di setiap keadaan sebagai bekal perjalanan hidup.

Semoga Ramadhan kali ini adalah Ramadhan terbaik Kita. Alloohumma aamiin...

"Anak-anak akan tumbuh menjadi apa yang Anda percayai tentang mereka." (Anonims)

 



Cerdas, visioner, learner adalah tiga sifat yang dominan kutemukan padanya. Terkadang sangat perasa namun jarang terjadi kecuali pada saat-saat tertentu. 

Aku adalah seorang Ibu yang selalu punya alasan untuk membanggakan segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki anak. Aku juga seorang Ibu yang beraggapana hanya aku saja yang boleh memarahi anak, sedangkan yang lain jangan termasuk suamiku sendiri. 

Dilahirkan tepat menuju 1 tahun anniversary pernikahan. Sehingga menjadi kado terindah yang kami dapatkan. 

Darinya kubelajar banyak hal. Mulai dari kesabaran sebagai Ibu muda, ketelatenan sebagai guru, bahkan bertingkah bak teman sebaya. 

Kini usianya menginjak aqil baligh. Sedikit ku memahami melewati fase ini bukanlah hal yang mudah. Perubahan fisik, perubahan pola fikir adalah kondisi yang tentu sedikit banyak telah membuatmu tidaklah nyaman. Namun, aku yakin kita bisa melewati fase ini bersama-sama sehingga bisa melewatinya dengan bahagia.

Selamat anakku... semangat menjadi dirimu sendiri... jadilah anak yang mandiri, mampu bertanggung jawab dengan diri sendiri, bisa mencukupi tangki diri sehingga siap berbahagia untuk berbagi.



Kenangan Bersama Ayah
IKMAL Suara Persaudaraan
Kenangan Bersama Ayah
Dalam sebuah perjalanan menyusuri pantai utara
Berkereta di tengah malam Surabaya - Jakarta
Kuteringat masa indah di masa-masa kecilku
Kenangan bersama ayah di kampung halaman
Sungguh indah
Terlalu manis untuk dilupakan
Sungguh mesra
Meski beriring ketegangan
Suasana pengajian petang seperempat malam pertama
Riuh rendah suara hafalan atau cemeti hukuman
Hening hanya decahan kala epik dipaparkan
Liku-liku perjuangan para pahlawan Islam
Yang gagah perkasa
Di medan perjuangan
Yang tak takut mati
Untuk meraih kemuliaan Islam
Ayah terima kasih nanda haturkan kepadamu…







Sejak memproklamirkan jalan-jalan setiap ahad. Selalu saja ada ide tempat mana yang bisa kita kunjungi. 

Ahad ini kita menyusur sisi selatan tempat tinggal kita. Taman kota Kubang kita sambangin, Tugu Perjuangan Kubang pun kita samperin. Hamparan rerumputan, hijaunya pesawahan, dipermanis dengan bukit bebatuan menambah semangat perjalanan kita. 

Semakin jauh melangkah, semakin memanjakan mata untuk melihat limpahan Karunia-Nya.







Mind map sederhana ala Mak 3 jagoan. Simple dengan mimpi-mimpi luar biasa. Mencoba dan berusaha memacu diri untuk menyuburkan ranah sendiri, sehingga hijaunya rumput tetangga hanya terlihat samar-samar. Hihihi....

Mengingat kembali upaya Mak membangun bonding dengan anak-anak selepas ditinggal jauh dan sibuk dengan ranah publik. Akhirnya...Aku pulaaaang.... Hamdan wa syukron lillaah disela kebingungan harus mulai dari mana, Mak dipertemukan dengan IIP. Bak aliran air Mak ikutin arusnya tanpa beban memikirkan hasilnya akan seperti apa.

Pelan-pelan pemahaman Mak dapatkan, kemudian dipraktekan sedikit demi sedikit. Pernah lelah? Jangan ditanya, stress pun pernah Mak lalui. Laa haula wa laa quwwata sampai dititik ini Mak terus berupaya menjadi lebih baik.

Apa kini sudah ideal? Masih terus berupaya dan terus mencari solusi dari setiap tantangan kehidupan.

Yuk, jangan takut memulai jangan enggan menerima tantangan. Mulai saja, hadapi saja...jangan kaget jika mendapati sesuatu yang sangat berarti...









 "Jika Anda ingin berjalan lebih cepat, berjalanlah sendirian.Jika Anda ingin berjalan lebih jauh, berjalanlah bersama orang lain" (Ubuntu, Afrika)

 



"Travelling merupakan media pembelajaran untuk mengendalikan ego bagi diri sendiri dan orang lain"